Cacingan dan Sanitasi, Hubungan yang Sering Diabaikan di Indonesia

kimberlycartier.org – Di Indonesia, infeksi cacing tanah (soil-transmitted helminthiasis) atau yang lebih dikenal dengan istilah “cacingan” masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama di daerah pedesaan dan perkotaan kumuh. Menurut Riskesdas 2018, prevalensi cacingan pada anak usia sekolah masih berkisar 20–30% di beberapa provinsi, meskipun sudah turun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Angka ini sebenarnya bisa jauh lebih rendah jika sanitasi dasar terpenuhi.

Apa Itu Cacingan?

Cacingan adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing parasit yang hidup di usus manusia, terutama:

  • Cacing tambang (Ancylostoma duodenale & Necator americanus)
  • Cacing gelang (Ascaris lumbricoides)
  • Cacing cambuk (Trichuris trichiura)

Cacing-cacing ini menyelesaikan sebagian siklus hidupnya di tanah yang lembab dan terkontaminasi tinja manusia. Telur atau larva cacing masuk ke tubuh manusia melalui:

  • Makan sayur atau buah yang tidak dicuci bersih
  • Minum air yang tercemar
  • Kaki telanjang menginjak tanah yang mengandung larva cacing tambang
  • Kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS)

Sanitasi: Kunci Utama Pencegahan

Lebih dari 80% kasus cacingan di dunia bisa dicegah hanya dengan perbaikan sanitasi dan higiene dasar (WHO, 2022). Di Indonesia, masih ada sekitar 25 juta orang yang melakukan BABS (data SUSENAS 2023), terutama di daerah terpencil, perkampungan nelayan, dan pemukiman padat di pinggiran kota.

Hubungan antara sanitasi buruk dan cacingan sangat jelas:

  1. Tidak ada jamban keluarga → tinja manusia mencemari lingkungan
  2. Tanah dan air menjadi media penularan telur/larva cacing
  3. Anak-anak dan petani yang sering kontak dengan tanah menjadi kelompok paling rentan
  4. Infeksi berulang → anemia, gizi buruk, gangguan pertumbuhan (stunting), dan penurunan prestasi belajar

Dampak Cacingan yang Serius Tapi “Tak Terlihat”

Banyak orang tua menganggap cacingan “biasa saja” karena anak tetap aktif dan makan lahap. Padahal dampak jangka panjangnya sangat besar:

  • Anak dengan infeksi cacing kronis bisa kehilangan 3–4 poin IQ permanen
  • Anemia defisiensi besi akibat cacing tambang menyebabkan kelelahan dan sulit konsentrasi
  • Stunting (pendek) karena penyerapan gizi terganggu
  • Beban ekonomi keluarga untuk pengobatan dan hilangnya produktivitas

Solusi yang Sudah Terbukti Efektif

Program pemerintah melalui Kementerian Kesehatan sejak tahun 2015 melakukan:

  • Pemberian obat cacing massal (POPM) dua kali setahun kepada anak usia 1–12 tahun (target 2020–2030: eliminasi cacingan sebagai masalah kesehatan masyarakat)
  • Promosi Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)
  • Pembangunan jamban keluarga melalui program SANIMASI dan PAMSIMAS

Namun, obat cacing hanya membunuh cacing dewasa di usus. Jika sanitasi tidak diperbaiki, infeksi akan kembali dalam 6–12 bulan (reinfection). Karena itu, kombinasi “obat + jamban + higiene” adalah satu-satunya cara untuk memutus rantai penularan secara permanen.

Apa yang Bisa Kita Lakukan Sekarang?

  1. Pastikan setiap rumah memiliki jamban sehat (leher angsa, septic tank kedap)
  2. Biasakan anak memakai alas kaki di area berisiko
  3. Cuci sayur dan buah dengan air mengalir, lebih baik direndam larutan cuka atau garam
  4. Ajarkan anak cuci tangan pakai sabun sebelum makan dan setelah dari toilet
  5. Dukung program desa/kelurahan ODF (Open Defecation Free) atau bebas buang air besar sembarangan

Cacingan bukan hanya masalah “perut kembung” atau “gatal di dubur”. Ia adalah cerminan dari ketimpangan akses sanitasi dasar yang masih dialami jutaan rakyat Indonesia. Selama masih ada anak yang terpaksa BAB di sungai, kebun, atau halaman rumah, maka cacingan akan terus menjadi ancaman bagi generasi mendatang.

Eliminasi cacingan bukan mimpi. Ia hanya butuh komitmen bersama: pemerintah menyediakan infrastruktur, masyarakat mengubah perilaku, dan kita semua menjaga kebersihan lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *