Faktor yang Meningkatkan Risiko Cacar Api, dari Diabetes hingga Stres

kimberlycartier.org – Cacar api atau herpes zoster kerap dianggap sebagai penyakit kulit biasa, padahal dampaknya bisa jauh lebih serius. Penyakit ini muncul akibat reaktivasi virus varicella-zoster, virus yang sama penyebab cacar air. Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus tidak benar-benar hilang, melainkan “tidur” di dalam sistem saraf dan dapat aktif kembali ketika daya tahan tubuh melemah. Sejumlah faktor diketahui dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami cacar api, mulai dari kondisi medis hingga tekanan psikologis.

Salah satu faktor utama adalah menurunnya sistem imun. Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh dalam melawan infeksi cenderung menurun. Inilah sebabnya cacar api lebih sering menyerang kelompok usia lanjut. Sistem kekebalan yang melemah memberi peluang bagi virus yang dorman untuk kembali aktif dan menimbulkan gejala khas berupa ruam nyeri di satu sisi tubuh.

Diabetes juga menjadi faktor risiko yang tidak bisa diabaikan. Penderita diabetes umumnya memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah, terutama jika kadar gula darah tidak terkontrol dengan baik. Kondisi ini membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi, termasuk reaktivasi virus penyebab cacar api. Selain itu, komplikasi saraf yang sering menyertai diabetes dapat memperparah nyeri akibat herpes zoster.

Stres berkepanjangan turut berperan besar dalam meningkatkan risiko cacar api. Stres memicu pelepasan hormon tertentu yang dapat menekan sistem kekebalan tubuh. Ketika stres tidak dikelola dengan baik, tubuh kehilangan kemampuan optimal untuk menjaga virus tetap tidak aktif. Tak jarang, cacar api muncul setelah seseorang mengalami tekanan emosional berat, kelelahan ekstrem, atau gangguan tidur dalam waktu lama.

Faktor lain yang patut diwaspadai adalah kondisi medis tertentu dan pengobatan yang menekan sistem imun. Penyakit autoimun, kanker, atau penggunaan obat imunosupresan dapat membuat tubuh lebih mudah “kecolongan” oleh virus varicella-zoster. Pada kondisi ini, cacar api bisa muncul dengan gejala yang lebih berat dan durasi penyembuhan yang lebih lama.

Gaya hidup juga memiliki peran penting. Kurang istirahat, pola makan tidak seimbang, serta kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol berlebihan dapat melemahkan pertahanan tubuh. Ketika tubuh tidak mendapatkan nutrisi dan pemulihan yang cukup, risiko berbagai penyakit infeksi, termasuk cacar api, ikut meningkat.

Menariknya, cacar api tidak hanya berdampak pada kulit, tetapi juga dapat menimbulkan komplikasi jangka panjang seperti nyeri saraf menetap. Karena itu, mengenali faktor-faktor risikonya menjadi langkah awal yang penting. Dengan menjaga kesehatan metabolik, mengelola stres, serta menerapkan pola hidup sehat, risiko cacar api dapat ditekan. Pencegahan bukan hanya soal menghindari penyakit, tetapi juga menjaga kualitas hidup secara keseluruhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *