predicting COVID outcomes

Skor klinis untuk memprediksi hasil COVID


Sebuah studi baru-baru ini menyajikan metrik baru untuk memprediksi hasil COVID-19.

Saat dunia bergulat dengan pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung, kemajuan dalam penelitian membawa kejelasan, janji, dan harapan dalam mengelola krisis ini. Akhir-akhir ini, sekelompok peneliti dari Royal College of Surgeons di Irlandia, menciptakan sistem poin prognostik yang mampu memprediksi hasil COVID-19. Model mereka untuk menilai perjalanan penyakit COVID-19 bergantung pada pengukuran dua molekul sistem kekebalan: IL-6 dan IL-10.

IL-6 bertanggung jawab untuk menyebabkan peradangan pada tubuh, yang dapat menyebabkan gejala seperti demam dan kerusakan organ. Sedangkan IL-10, menekan peradangan yang terlihat pada penyakit seperti COVID-19. Dengan memantau rasio IL-6 dan IL-10 yang diproduksi individu, para peneliti dapat menentukan tingkat keparahan penyakit COVID-19.

Data tersebut mencakup 80 pasien positif COVID-19 yang dipilih secara acak dari daftar catatan rumah sakit. Delapan puluh delapan persen peserta membutuhkan dukungan oksigen, dan beberapa di antara mereka sakit parah di unit perawatan intensif. Penelitian berlangsung selama tujuh hari. Gejala klinis pasien dipantau dan sampel darah diambil setiap dua hari untuk menganalisis kadar IL-6 dan IL-10. Perjalanan penyakit mereka dikategorikan sebagai “tidak berubah”, “membaik”, atau “menurun”. Dari pengamatan gejala pasien dan data darah rasio IL-6: IL-10, para peneliti menciptakan sistem poin “Dublin-Boston” untuk menunjukkan kemungkinan pasien mengembangkan gejala yang lebih buruk.

Menggunakan skor Dublin-Boston untuk memprediksi hasil COVID-19 dapat membantu menciptakan terapi untuk pasien yang sakit.

Para peneliti dapat mengungkapkan bagaimana pemantauan tingkat rasio IL-6: IL-10 berkorelasi dengan hasil klinis. Berdasarkan sistem skor Dublin-Boston, mereka menemukan bahwa pemantauan produksi IL-6: IL-10 setiap empat hari ideal untuk secara akurat mengidentifikasi risiko pasien mengembangkan gejala yang lebih buruk. Karena pasien COVID-19 secara historis menunjukkan peningkatan IL-6 dan penurunan IL-10, dokter dapat menggunakan data ini untuk mengenali tahap penyakit apa yang terjadi.

Terlepas dari keuntungan melakukan studi yang terorganisir dengan cermat, para peneliti hanya memantau sejumlah kecil pasien, dan hasilnya belum dapat direplikasi. Pertimbangan lain adalah batasan biologis pemantauan rasio IL-6: IL-10. Meskipun IL-6 dapat menyebabkan kerusakan organ akibat peradangan, perannya di dalam tubuh masih dianggap penting untuk fungsi kekebalan yang baik. Dengan pengetahuan yang diperoleh saat ini, para profesional medis harus berhati-hati saat membuat terapi yang ditujukan untuk menargetkan rasio IL-6: IL-10. Tujuannya bukan untuk mengurangi IL-6, melainkan untuk memulihkan jumlah IL-6 dan IL-10 yang seimbang di dalam tubuh.

Jika berhasil, profesional perawatan kesehatan akan dapat menggunakan skor Dublin-Boston untuk mengidentifikasi kematian pasien COVID-19 sejak dini. Kesiapsiagaan yang meningkat ini dapat membantu mengatasi berbagai masalah: memberikan perawatan yang tepat pada waktu yang tepat, dan mengalokasikan sumber daya pasien dengan lebih baik jika diperlukan. Selain memprediksi hasil COVID dengan tepat, skor Dublin-Boston juga dapat digunakan untuk menilai seberapa baik pengobatan di masa depan dapat bekerja berdasarkan tingkat IL-6: IL-10.

Ditulis oleh Melody Sayrany

Referensi:

  1. Mcelvaney, OJ, Hobbs, BD, Qiao, D., Mcelvaney, OF, Moll, M., Mcevoy, NL,… Mcelvaney, NG (2020). Skor prognostik linier berdasarkan rasio interleukin-6 ke interleukin-10 memprediksi hasil pada COVID-19. EBioMedicine, 61, 103026. doi: 10.1016 / j.ebiom.2020.103026

Gambar oleh athree23 dari Pixabay


Diposting Oleh : Togel Singapore

About the author